Kamis, 18 Desember 2008

0 Kisah Hudzaifah di medan Ahzab

Embun Tarbiyah
Cermin ketaatan sejati
Sudah satu bulan lebih pengepungan itu berlangsung, Pasukan Quraisy dan sekutunya yang mencapai puluhan ribu tersebut tetap bertahan di tempatnya, di seberang parit. Mereka tidak tahu harus berbuat apa. Inilah perang Khandak (parit), dimana Rasulullah dikepung oleh tentara gabungan musyrikin Makkah dalam jumlah yang belum pernah mereka hadapi. Berkat usulan Salman Al-Farisi, dibuatlah parit sebagai benteng pertahanan ala Parsi dalam mempertahankan diri ketika keberadaan musuh lebih besar jumlahnya. Strategi itu cukup berhasil. Quraisy tak mampu berbuat apapun kecuali hanya menunggu dan menunggu.
Rasulullah saw dan para shahabat tetap bersabar dalam kepungan mereka. Dalam keadaan lapar, terjepir dan kebuntuan itu, mereka masih punya harapan kepada Allah swt. Sementara itu, Yahudi Banu Quraidhah yang pernah menyatakan perjanjian damainya dengan kaum muslimin telah nyata-nyata mengingkari janji, mereka malah bergabung bersama pasukan kafir Quraisy. Maka semakin lengkaplah kekuatan musuh dan semakin bersarlah bahaya yang mengepung kaum muslimin.
Perang ini disebut juga perang Ahzab(sekutu, istilah modern: Pasukan Multinasional) mengingat besarnya ancaman musuh yang datang menyerbu Madinah.

(............selengkapnya )





Dalam keadaan tak menentu itu, datanglah pertolongan Allah swt. Terjadilah peristiwa alam yang langka. Suatu malam, hujan angin datang disertai badai besar hingga membuat panik setiap orang. Cuaca menjadi sangat dingin, ditingkahi kilatan halilintar yang membahana, masih diiringi deru angin putting beliung yang luar biasa kencangnya. Periuk-periuk pasukan kafir Quraisy pun berjatuhan, kemah beterbangan terbawa angin. Dinginnya angin dan hujan membuat setiap orang menggigil luar biasa. Terkaman alam tersebut telah membuat orang-orang gurun tersebut tersiksa, terlebih bagi orang-orang kafir, hati dan pikiran mereka semakin tidak karuan.
Dalam kondisi demikian sulit dan berat tersebut Rasulullah saw. justru ingin mengetahui keadaan pasukan musuh. Kala itu kaum muslimin duduk dengan mendekap kaki-kaki mereka mencari kehangatan. Kedinginan terasa menusuk tulang, apalagi perut yang kosong kelaparan semakin menambah keadaan bagaikan membekukan. Hujan masih saja turun. Setiap orang merasa terancam oleh suasana mencekam yang sangat luar biasa tersebut.
Para shahabat duduk membatu dalam kegelapan bagaikan onggokan bebatuan mati. Di tengah kebisuan itu Rasulullah saw. bersabda, “Adakah yang bersedia mencari berita musuh dan melaporkannya kepadaku, mudah-mudahan Allah menjadikannya bersamaku di hari Kiamat!”
Jaminan keselamatan dari Rasulullah saw. dan berita gembira itu tidak segera mendapat sambutan dari para shahabat. Padahal biasanya para shahabat senantiasa menyambut dan berebut untuk menunaikan amanah Rasulullah saw. Sungguh mengherankan, semua shahabat diam menahan dingin dan didekap penderitaan yang berat, ditambah rasa takut yang masih menyelimutinya. Maka, Rasulullah saw. pun mengulang-ualang pertanyaan itu sampai tiga kali. Begitu pun tetap tidak ada juga shahabat yang menyambut tawaran itu. Hingga kemudian Rasulullah saw. berseru, “Qum… ya Hudzaifah!! (Bangkitlah… wahai Hudzaifah!!) Carilah berita dan laporkan kepadaku!!”
Dengan segera, ketika Rasululah saw menyebut namanya, Hudzaifah bangkit. Seringan kapas ia berdiri dan segera menuju pimpinannya. Padahal, ketika duduk tadi badannya lengket dengan bumi, serasa ada beban batu besar di punggungnya. Titah Rasul saw. kemudian , “Berangkatlah mencari berita musuh dan janganlah engkau melakukan tindakan apapun!”
Hudzaifah mengisahkan dirinya tatkala melaksanakan tugas besar itu, “Aku berangkat seperti orang yang sedang dicengkeram kematian, seolah-olah maut telah ada di depan pelupuk mataku. Aku pun tiba di wilayah konsentrasi musuh. Disana aku bisa melihat dengan jelas, Abu Sufyan yang menjadi panglima mereka sedang menghangatkan punggungnya di perapian. Secara reflek aku segera memasang anak panah pada busur dan aku arahkan ke tubuhnya yang hanya berjarak beberapa langkah dari posisiku. Namun, sebelum anak panah lepas dari busurnya, aku seperti mendengar pesan Rasulullah saw. “Janganlah engkau melakukan tindakan apapun!” Maka aku segera mengurungkan niat, aku ingat betul akan tugasku, Tugasku hanya mencari berita tentang keadaa musuh belaka. Padahal, jika aku lepaskan panahku tersebut aku sangat yakin pasti akan mengenai Abu Sufyan. Aku urungkan niat itu, aku berjalan berkeliling di antara mereka. Keadaannua sungguh sangat parah. Periuk-periuk pecah ke bumi diterjang angin. Perapian banyak yang padam. Sementara itu kemah-kemah mereka berserakan diobrak-abrik oleh badai salju.
Tiba-tiba telinga menangkap perintah Abu Sufyan yang berteriak mengingatkan pasukannya. “Wahai Quraisy, hendaklah kalian tetap waspada di tengah kegelapan ini. Yakinkan bahwa orang-orang yang duduk di sisi kanan kirimu benar-benar adalah kawanmu. Maka selidikilah! Aku pun secepat kilat segera memegang tangan orang yang duduk di sekitarku dan segera berseru, “Siapa dirimu?” Mereka pun menjawab, “fulan bin fulan”, Maka selamatlah aku karena mereka tidak berkesempatan menanyakan identitasku.
Abu Sufyan kulihat berdiri dan berkata, “Wahai kaum Quraisy!” katanya berteriak “Kalian tidak akan dapat bertahan lagi dalam keadaan begini terus menerus. Ternak-ternak kita telah mati. Periuk-periuk tempat kita menanak nasi pecah berantakan. Tenda-tenda terbang bersama angin. Semantara itu Bani Quraidhoh telah menciderai kita. Kalian tahu, sekarang angin topan telah menghajar kita dan perbekalan kita. Karena itu, pulang sajalah kita! Aku pun hendak berangkat pulang.”
Selesai memberi perintah demikian, Abu Sufyan lantas memutar kudanya kearah Makkah. Dihentakkannya kekang kudanya. Kuda itu pun segera berlari menuju Makkah.
Begitulah ketaatan Hudzaifah ra. yang luar biasa. Sam’an wa tha’atan dalam kondisi apapun, baik ringan atau berat, susah atau senang.
“Dakwah ini tidak mengenal sikap ganda. Ia hanya mengenal satu sikap totalitas. Siapa yang bersedia untuk itu, maka ia harus hidup bersama da’wah dan da’wah pun melebur dalam dirinya. Sebaliknya, barangsiapa lemah dalam memikul beban ini, ia terhalang dari pahala besar mujahid dan tertinggal bersama orang-orang yang duduk. Lalu Allah SWT akan mengganti mereka dengan generasi lain yang lebih baik dan lebih sanggup memikul beban dakwah ini” (Imam As Syahid Hasan Al Banna).


0 komentar:

Followers

 

One Blog Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates